Pengertian dan Tujuan Dari Taksonomi Bloom di Indonesia

Pendidikan di Indonesia memang sedang mengalami banyak perbaikan. Secara teknis pendidikan di Indonesia masih kalah jauh dengan sistem pendidikan di luar negeri. Meski demikian Indonesia mulai memperbaiki dan berusaha mengikuti sistem pendidikan yang ada di luar negeri dengan menggunakan sistem Taksonomi Bloom.

Pengertian Dan Sejarah Dari Taksonomi Bloom

Banyak orang yang belum memahami arti dari Taksonomi Bloom karena memang tidak banyak orang yang memahami betul mengenai sistem pendidikan kecuali jika seorang pengajar. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Taksonomi memiliki arti klasifikasi bidang menurut kaidah dan prinsip yang meliputi klasifikasi objek.

Menurut sejarahnya sistem ini dicetuskan oleh Benjamin S. Bloom. Benjamin Samuel Bloom lahir di Landsford, Pennsylvania pada tanggal 21 Februari 1913 dan meninggal pada tanggal 13 September 1999 pada usianya yang ke 86 tahun.

Beliau merupakan seorang psikologi di dunia pendidikan dari Amerika Serikat. Beliau memiliki kontribusi penting dan yang utama dalam pendidikan yaitu penyusunan taksonomi tujuan pendidikan dan pembuatan teori belajar tuntas.

Tujuan Dari Sistem Taksonomi Bloom

Setelah kita bersama mengetahui apa arti taksonomi, maka yang selanjutnya adalah mengenai tujuan dari taksonomi. Sebenarnya secara singkat fungsi dari sistem ini adalah untuk mempermudah dalam mengidentifikasi skill dari tinggat paling rendah hingga yang paling tinggi.

Kemudian, setelah mengetahui yang terendah, maka akan dilakukan perbaikan dari yang memiliki skill terendah terlebih dahulu agar sama dengan yang memiliki skill tertinggi. Untuk mencapai hal tersebut berikut ini kerangka untuk mencapai tujuan tersebut :

  1. Ranah Kognitif

Dalam langkah pertama ini bertujuan untuk mencakup segala kegiatan yang berhubungan dengan mental kognitif otak. Ada 6 tahapan untuk proses berpikir :

  1. Pengetahuan

Hal yang ditekankan di sini adalah proses untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan.

  1. Pemahaman

Setelah mendapatkan pengetahuan dan mengingat hal tersebut, kemudian dilakukan dengan sebuah tes pemahaman seperti menuliskan kembali apa yang diperoleh atau dipahami.

  1. Penerapan

Menerapkan apa yang diperoleh dan dipahami ke dalam hal yang nyata atau yang dapat dilihat dan diukur. Sebagai contoh melalui praktek dalam dunia kerja yang dapat diukur kemampuan dan pemahamannya.

  1. Analisa

Pada tahapan ini diharapkan setelah mengerti dan memiliki kemampuan, dapat melakukan sebuah analisa berdasarkan kemampuan yang telah dimiliki.

  1. Sintesis

Setelah memahami berbagai fase hingga dapat melakukan analisa, diharapkan mampu untuk menciptakan sesuatu agar dapat melengkapi dan memperbaiki kekurangan yang ada.

  1. Evaluasi

Pada tahapan ini seseorang mampu menilai dan memberikan evaluasi mengenai sistem tertentu berdasarkan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki pada fase sebelumnya.

  1. Ranah Afektif

Hal ini berhubungan dengan psikis atau terkait dengan emosi. Sebagai contoh nyata adalah bentuk penghargaan, perasaan, nilai, semangat, minat, motivasi dan sikap. Ada beberapa fase dalam ranah ini :

  1. Penerimaan
  2. Responsive
  3. Nilai yang diikuti
  4. Organisasi
  5. Karakter
  6. Ranah Psikomotorik

Dalam hal ini seseorang diukur berdasarkan kemampuannya secara fisik meliputi kecepatan, ketepatan, atau ketrampilan yang berhubungan dengan hal motorik lainnya.

Oleh karena itu penggunakan sistem ini dapat dilakukan dalam segala bidang pekerjaan atau kegiatan. Sebagai contoh jika hal ini diterapkan dalam sebuah perusahaan, maka diharapkan dapat meningkatkan skill para karyawan.

Sehingga jika semula karyawan di level terbawah dapat berubah menjadi level teratas dengan taksonomi bloom. Keuntungan dari sama ratanya kemampuan yang maksimal di bidang masing-masing, diharapkan akan memberikan hasil yang maksimal.